Balai TN Gunung Ciremai Berbagi Ilmu Dengan BBKSDA Jabar

Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Itulah bunyi hadist yang bertujuan memompa semangat umat manusia untuk senantiasa menuntut ilmu, walaupun harus melintasi ruang dan waktu. Namun untuk memperoleh ilmu tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, tampaknya tidaklah harus jauh-jauh ke Negeri Tirai Bambu tersebut. Ya, ilmu tersebut masih bisa didapat dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), “saudara dekat” Balai Besar KSDA Jawa Barat yang lokasinya terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Menyerap ilmu dari BTNGC dipandang perlu karena ada beberapa aspek pengelolaan di sana yang perlu dicontoh oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat mengundang BTNGC untuk memaparkan materi seputar pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai sebagai sebuah lesson learned.

Acara pemaparan materi tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November 2017 bertempat di Aula Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, pihak BTNGC diwakili oleh Kepala Sub Bagian TU (Mufrizal, SH, MH), Kepala SPTN Wil. I Kuningan (San Andre Jatmiko, S.Hut.), dan Kepala SPTN Wil. II Majalengka (Siswoyo, S.Hut.). Acara tersebut dihadiri oleh para pejabat struktural serta pegawai lingkup Balai Besar KSDA Jawa barat

Secara umum, para pemateri memberikan paparan mengenai Learning Process Pemanfaatan Air dan Pemberdayaan Wisata Komunitas Desa Penyangga di TNGC. Terkait dengan pemanfaatan jasa lingkungan air, BTNGC termasuk unit pelaksana teknis Ditjen KSDAE yang telah yang areal pemanfaatan air dan energi airnya telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor SK.40/KSDAE/SET/KSA.3/1/2017 tanggal 24 Januari 2017. TNGC sendiri memiliki 97 Sumber Air dengan debit air minimal 9.057,61 liter/detik.

Sementara dalam hal pemberdayaan wisata komunitas desa penyangga di TNGC terdapat beberapa kebijakan yang memungkinkan adanya interaksi ekologi, sosial budaya dan ekonomi dalam bentuk:

  • Akses kepada masyarakat sebagai tuan rumah di dalam pengelolaan jasa lingkungan wisata , air  dan  kehati;
  • Pengelolaan sampah dari aktifitas wisata oleh masyarakat pemanfaat jasa lingkungan wisata secara mandiri sehingga terwujud kawasan hutan sebagai  zona zero waste dan zero cost;
  • Aksi restorasi kawasan oleh masyarakat pemanfaat jasa lingkungan wisata, air, dan pengunjung wisata;
  • Memberikan ruang untuk kearifan lokal, aksi budaya dan pengembangan kuliner local;
  • Penelitian dan pengembangan kehati kawasan yang mempunyai nilai manfaat untuk daerah penyangga seperti pemanfaatan mikroorganisme hutan untuk pertanian, peternakan dan budidaya sehat tanpa limbah kimia, dll;
  • Kepedulian sosial dengan menyantuni anak yatim piatu,duafa, guru mengaji dan bantuan bencana.

Dengan kebijakan-kebijakan terkait wisata tersebut, masyarakat mendapatkan value berupa peningkatan secara ekonomi karena ada multiflier effect dari hasil usaha kuliner, cindera mata, maupun jasa potter. Sementara kawasan juga mendapatkan benefit dari masyarakat karena masyarakat melakukan restorasi serta melakukan pengelolaan sampah hasil aktivitas wisata secara swadaya dan mandiri. Di samping itu, jumlah PNBP dari tiket masuk kawasan sampai dengan bulan Oktober juga telah melampaui target yang telah ditetapkan.

Beberapa lesson learned bisa didapat dari pengelolaan jasa lingkungan air dan wisata di TNGC. Dalam pengelolaan jasa lingkungan air, Balai Besar KSDA Jawa Barat dengan potensi air yang berlimpah di taman wisata alam dan suaka margasatwa, dapat mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh BTNGC guna mendapatkan penetapan areal pemanfaatan air pada masing-masing TWA maupun SM. Hal tersebut merupakan langkah awal sebelum izin pemanfaatan/usaha pemanfaatan air/energi air yang diajukan berbagai pihak diberikan kepada yang bersangkutan. Terkait pengelolaan jasa wisata, Balai Besar KSDA Jawa Barat dapat belajar bagaimana wisata berbasis masyarakat tersebut diterapkan sehingga masyarakat dan kawasan sama-sama mendapatkan benefit dari kegiatan wisata yang dijalankan.

Akhirnya, terima kasih kepada BTNGC yang telah berbagi ilmu dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat. Semoga apa yang telah dirintis di TNGC ataupun yang akan dirintis di Balai Besar KSDA Jawa Barat sama-sama akan memberikan benefit, tidak hanya untuk kawasan konservasi, tetapi juga untuk masyarakat di sekitar kawasan konservasi.