Keberhasilan Mediasi BBKSDA Jabar Dalam Upaya Penyelamatan Habitat Kuntul Kerbau Di Kampung Ranca Bayawak

Inisiasi, fasilitasi sekaligus mediasi yang dilakukan oleh BBKSDA Jawa Barat pada tanggal 3 Oktober 2017 lalu dengan mengundang berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan kewenangan dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di Kampung Ranca Bayawak Kota Bandung, rupanya ditanggapi dengan positif oleh pihak Summarecon, perusahaan yang akan mengembangkan area yang berbatasan dengan Kampung Ranca Bayawak.

Hal tersebut dapat dilihat dari inisiatif yang dilakukan oleh Town Management Summarecon untuk mengadakan sebuah lokakarya bertajuk “Rencana Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Summarecon Bandung Sebagai Manifestasi Kepedulian Terhadap Lingkungan Hidup, termasuk Habitat Burung Kuntul dan Blekok”. Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 17 November 2017 di Hotel Grand Cordela Bandung ini mengundang berbagai pihak yang berasal dari akademisi, aktivis lingkungan, instansi terkait, serta perwakilan masyarakat Kampung Ranca Bayawak. Lokakarya tersebut bertujuan untuk memperoleh saran perencanaan Ruang Terbuka Hijau terkait keberadaan habitat burung kuntul dan blekok di sekitar kawasan Summarecon Bandung.

Lokakarya yang dikemas dalam bentuk diskusi panel ini menampilkan 3 (tiga) panelis, yaitu Irwin Ponco dari Summarecon Bandung, Prof. Johan Iskandar, M.Sc., Ph.D. dari Unpad, dan Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. dari BBKSDA Jawa Barat.

Irwin Ponco sebagai penelis pertama menyampaikan bahwa total luas RTH yang akan berdampingan dengan Kampung Ranca Bayawak adalah seluas 23.782,17 m2 yang mencakup area hijau seluas 9.778,90 m2 serta kolam retensi seluas 12.689.1 m2. Kolam retensi tersebut akan dikelilingi oleh genangan dangkal sedalam lebih kurang 20 cm dengan luas total genangan dangkal sekitar 1.304,17 m2 yang akan ditanami berbagai tumbuhan air seperti akar wangi, iris, rumpun padi, papyrus, dan sebagainya. Di samping itu, pada area genangan dangkal juga akan ditebarkan ikan-ikan kecil dan gastropoda yang menjadi makanan burung kuntul dan blekok.

Panelis kedua, yaitu Prof. Johan Iskandar lebih banyak memberikan informasi terkait penelitian/pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas burung di Kampung Ranca Bayawak, termasuk memberikan informasi bahwa terdapat juga jenis burung lain yang dilindungi selain kuntul kerbau, yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta). Selain itu, disampaikan pula tentang fluktuasi jumlah burung yang berada di Kampung Ranca Bayawak dalam beberapa tahun terakhir.

Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. sebagai panelis terakhir lebih banyak menekankan pada hasil pengamatan terhadap aktivitas kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak, interaksi masyarakat dengan burung yang ada di Kampung Ranca Bayawak, serta berbagai rekomendasi agar keberadaan burung kuntul kerbau dapat senantiasa terjaga di Kampung Ranca Bayawak. Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah perlunya mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan habitat burung kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak sebagai kawasan ekosistem esensial sehingga keberadaan burung dilindungi tersebut dapat senantiasa terjaga.

Rencana pengembangan RTH di sekitar habitat burung kuntul kerbau telah menunjukkan kepedulian dan itikad baik dari Summarecon untuk “hidup berdampingan” dengan kuntul kerbau dan jenis burung lainnya. Bahwa pengembangan suatu kawasan, tidak harus melulu memarjinalkan makhluk lain, walaupun itu hanya sekadar burung. Oleh karena itu, proses pengembangan RTH tersebut perlu terus dikawal sehingga konsep RTH tersebut benar-benar dapat terwujud. Dengan demikian, pada akhirnya nanti kekhawatiran bahwa burung-burung tersebut akan hilang dari Kampung Ranca Bayawak, tidak akan pernah terjadi. Tentunya, hal ini menjadi keberhasilan mediasi BBKSDA Jabar dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak.