Menyelamatkan Habitat Kuntul Kerbau di Kampung Rancabayawak, Bandung

Balai Besar KSDA Jawa Barat pada hari Selasa, 3 Oktober 2017 menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Hasil Pengamatan Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) di Kampung Rancabayawak Kota Bandung. Acara yang dilaksanakan di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan di antaranya akademisi dari ITB dan UNPAD, LSM, tokoh masyarakat, perwakilan SKPD Provinsi maupun Kota, perwakilan dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, perwakilan dari Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, dan tentunya Balai Besar KSDA Jawa Barat selaku tuan rumah.

Sebelumnya, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah menurunkan Tim untuk melakukan kajian tentang keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak. Hasil tersebut perlu disosialisasikan kepada para pihak yang mempunyai kepentingan dan kewenangan dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau. Di samping itu, pertemuan ini juga menjadi ajang diskusi guna mencari solusi untuk menyelamatkan keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak.

Pertemuan yang dipandu secara langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M, Si., tersebut berjalan dengan sangat hidup. Masing-masing peserta memberikan pandangan dan masukkan yang konstruktif bagi upaya penyelamatan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak.

Salah satu poin penting pada pertemuan tersebut adalah bahwa para peserta memandang perlu agar Kampung Rancabayawak sebagai habitat kuntul kerbau didorong menjadi kawasan ekosistem essensial. Kawasan ekosistem essensial tersebut nantinya dapat dikelola secara kolaboratif dalam bentuk forum pengelola yang beranggotakan multistakeholder yang dapat terdiri dari anggota masyarakat setempat, para pemerhati, pihak swasta dan akademisi.

Kampung Rancabayawak sendiri merupakan sebuah tempat yang sebenarnya tidak lazim disebut sebagai ‘kampung’ karena letaknya yang berada di perkotaan, tepatnya di bagian timur Kota Bandung. Apalagi, kampung tersebut sebentar lagi akan berdampingan dengan sebuah perumahan super megah dan mewah yang merupakan bagian dari mega proyek bertajuk Bandung Technopolis.

Tidak seperti namanya, di kampung ini tidak banyak ditemukan biawak (Rancabayawak berarti Rawa biawak) karena yang banyak ditemukan di sana justru berbagai jenis burung air, termasuk di dalamnya kuntul kerbau. Jenis burung air dengan nama ilmiah Bubulcus ibis tersebut hidup di kampung tersebut karena kondisi kampung tersebut yang cocok sebagai habitat burung yang dilindungi undang-undang tersebut. Selain terdapat sebuah sungai (Sungai Cinambo), genangan-genangan air bekas pesawahan, dan beberapa kolam/empang, di kampung tersebut juga terdapat sekitar 8 (delapan) rumpun bambu yang dijadikan oleh kuntul kerbau dan burung air lainnya untuk bersarang dan berkembang biak.

Kekhawatiran bahwa habitat burung kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak akan terganggu menyeruak seiring dengan berjalannya pembangunan area perumahan. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan mengingat  akan ada pembatas antara perumahan dengan Kampung Rancabayawak yang terbuat dari pagar beton. Jika pemagaran tersebut dilakukan terlalu dekat dengan rumpun bambu, dikhawatirkan habitat bersarang burung terganggu dan area pendaratan burung semakin menyempit sehingga burung tidak lagi nyaman di rumpun bambu.

Jika habitat terganggu dan menjadi pemicu perginya burung kuntul kerbau ke tempat lain, tentunya akan menjadi sebuah kerugian bagi warga Kampung Rancabayawak. Hal tersebut dikarenakan warga Kampung Rancabayawak sudah merasa menyatu dengan burung air yang berada di kampungnya. Bahkan, salah seorang warga menciptakan sebuah tarian berjudul “Blekok” yang terinspirasi keberadaan burung air bernama blekok di Kampung Rancabayawak. Lebih jauh, atraksi burung-burung air tersebut ketika datang dan pergi menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat dari luar kampung dan menjadi daya tarik wisata tersendiri yang menghasilkan income bagi warga setempat.

Sebelum apa yang dikhawatirkan tersebut terjadi, para pihak yang memiliki kepentingan maupun kewenangan dalam upaya menyelamatkan habitat kuntul kerbau perlu dipertemukan. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat yang sebelumnya telah menurunkan Tim untuk melakukan kajian tentang keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak tampil inisiator sekaligus fasilitator dalam pertemuan tersebut.

Semoga apa yang telah dihasilkan pada acara tersebut dapat ditindaklanjuti oleh para pihak yang berkepentingan sehingga harapan bahwa habitat burung kuntul kerbau dan jenis burung lainnya di Kampung Rancabayawak dapat senantiasa dipertahankan menjadi sebuah kenyataan.