Penyerahan Burung Dilindungi Melalui Layanan Pengaduan Call Center BBKSDA Jabar

Siaran Pers

Sejak awal tahun 2017, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah membuka pelayanan pengaduan terkait: Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi UU, Perburuan satwa liar Dilindungi UU, Gangguan Kawasan Konservasi, Kebakaran Hutan dan Lahan serta Konflik Satwa Liar dalam bentuk call center yang tersebar di 6 Seksi Konservasi Wilayah lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat dengan penanggung jawab langsung dipegang oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah.

Awal tahun yang sama, Balai Besar KSDA Jawa Barat juga telah membentuk Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang juga tersebar di 6 Seksi Konservasi Wilayah lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat.

Keberadaan call center dan Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dikarenakan informasi atau pengaduan khususnya tentang kepemilikan atau perdagangan satwa liar yang dilindungi UU diterima melalui call center yang selanjutnya Kepala Seksi Konservasi Wilayah selaku penanggung jawab akan memerintahkan Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL untuk menindaklanjuti informasi/pengaduan tersebut dengan tahap awal adalah melakukan pengumpulan bahan keterangan selanjutnya berdasarkan pulbaket tersebut diambil tindakan sesuai dengan informasi yang diperoleh.

Pada hari Senin tanggal 5 Maret 2018, call center Seksi Konservasi Wilayah II Bogor, menerima pengaduan masyarakat (pemerhati satwa) melalui nomor whatsapp perihal kepemilikan satwa yang dilindungi undang-undang yang beralamat di Kampung Desa Kelurahan Duren Mekar Kecamatan Bojongsari Kota Depok. Berdasarkan pengaduan tersebut, pada hari yang sama Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Bogor langsung menugaskan Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL untuk melakukan pulbaket langsung bergerak dengan hasil bahwa sesuai dengan informasi pelapor, di lokasi ditemukan 6 ekor burung (dari 4 jenis burung) dilindungi sebagai berikut :
✓ Merak Hijau (Pavo muticus) 2 ekor
✓ Kakatua Raja Hitam (Probosciger aterrimus) 1 ekor
✓ Nuri Merah Kepala Hitam (Lorius Lory) 2 ekor
✓ Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) 1 ekor

Selanjutnya, hari Selasa tanggal 6 Maret 2018 Tim gugus tugas melakukan pendalaman informasi serta berkoordinasi dengan Ketua RT setempat mengenai pemilik dan keberadaannya, sekaligus mensosialisasikan peraturan perundangan terkait tumbuhan dan satwa liar. Berdasarkan informasi dari RT setempat bahwa pemilik biasanya berada dilokasi pada hari libur.

Sesuai informasi tersebut, maka pada hari Sabtu tanggal 10 Maret 2018, Tim Gugus Tugas kembali mendatangi lokasi untuk bertemu dengan pemilik, akan tetapi pemilik tidak ada ditempat. Tim Gugus Tugas mencoba berkomunikasi dengan yang bersangkutan melalui telepon. Dalam pembicaraan tersebut, Tm Gugus Tugas menyampaikan sosialisasi terkait peraturan perundangan terkait tumbuhan dan satwa liar dan menghimbau agar pemilik dapat menyerahkan kepada Negara, akhirnya pemilik menginformasikan akan menemui petugas pada hari Selasa tanggal 13 Maret 2018.

Selasa tanggal 13 Maret 2018, pemilik inisial KW pekerjaan karyawan swasta dengan alamat Kota Depok mendatangi kantor Bidang KSDA Wilayah I Bogor dan menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan secara sukarela satwa-satwa tersebut dan dituangkan kedalam Berita Acara Penyerahan/Pengamanan Satwa Liar.

Dalam kesempatan itu, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan baru memelihara satwa-satwa sekitar 6 bulan dan memperolehnya dari pemberian rekan kerja, selain itu yang bersangkutan mengaku belum memahami peraturan terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar bahkan yang betrsangkutan berterima kasih kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah memberikan informasi tersebut dan bersedia membantu mensosialisasikannya.

Pada hari itu juga Tim Gugus Tugas langsung melakukan proses evakuasi terhadap satwa-satwa tersebut dan langsung membawanya ke Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat untuk proses pengamanan satwa dan selanjutnya akan dititiprawatkan di Lembaga Konservasi.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, MSi., mengungkapkan bahwa fakta tersebut diatas, menggambarkan masih adanya keberadaan/kepemilikan satwa liar di masyarakat, sehingga diperlukan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat menyampaikan informasi tentang keberadaan/kepemilikan satwa liar di masyarakat melalui call center maupun media sosial  milik Balai Besar KSDA Jawa Barat. Namun disisi lain, dengan adanya pemberitaan baik di media massa ataupun media sosial berdampak cukup signifikan terhadap kesadaran masyarakat untuk menyerahkan satwa liar kepada Negara, hal ini terbukti sampai dengan hari ini satwa yang telah diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat mulai Januari 2018 telah mencapai 43 individu satwa dan semua satwa tersebut saat ini ditiprawatkan di Lembaga Konservasi untuk direhabilitasi.

Kami menghimbau kepada masyarakat yang masih memelihara satwa liar yang dilindungi undang-undang untuk dapat menyerahkan satwa-satwa tersebut kepada Negara untuk kami rehabilitasi dan selanjutnya akan dilepasliarkan jika berdasarkan hasil observasi layak untuk dilepasliarkan, dan untuk tidak ragu-ragu menghubungi layanan pengaduan melalui call center yang tersebar di 6 Seksi Konservasi Wilayah. Sedangkan untuk para penghoby satwa, disarankan lebih baik memelihara satwa yang legal hasil penangkaran dan mengurus izin pemeliharaannya dalam bentuk izin penangkaran sehingga legal secara hukum, pungkas Sustyo Iriyono.